Sabtu, 24 November 2012

Matahari dan Pelangi


                Aku menulis ini saat hujan. Saat angin sedang berhembus sejuk. Saat matahari enggan menampakkan sinarnya.
                Aku menulis ini ketika hatiku sudah rentan akan rasa sakit. Ketika semua perkataan penuh luka sudah membuatku kebal. Dan kini ketika hatiku sudah terlanjur beku, ia datang kembali dengan segala kehangatannya yang dulu sempat hilang. Datang, dan mungkin tidak lama lagi aku akan ditinggalkan membeku untuk kesekian kalinya.
                Namanya Egawa (atau sebut saja ia Egawa). Dia memiliki kehangatan yang jarang sekali kutemukan di beberapa lelaki. Kehangatan yang selalu ia berikan kepadaku. Ia membuat bunga yang dulu sempat gugur, bersemi kembali. Seperti matahari, sinarnya menghangatkan sepanjang siang. Dan saat malam tiba, ia pergi digantikan bulan yang juga menyinariku selama aku terjaga.
                Semua berjalan dengan sempurna. Sampai aku merasa bukan hangat lagi yang aku dapatkan dari matahariku. Aku merasa tersengat oleh teriknya. Egawa, matahariku, berubah menjadi awan kelam yang memberiku hujan tanpa henti. Bahkan mungkin bisa disebut badai. Bukan teduh awan lagi yang aku dapatkan, melainkan petir yang selalu menerjangku dan membuatku takut.
                Matahariku pergi. Egawa bukan seperti yang aku kenal dulu. Ia yang membuatku benci akan adanya hujan yang dulu aku sukai. Ia pun membuatku merasa panas dengan adanya matahari yang dulu selalu kunantikan kehadirannya.
                Hari demi hari aku jalani tanpanya. Rasanya…sepi. Aku rindu akan kehadirannya. Yang selalu menghiburku. Selalu menenangkanku. Selalu melindungiku seperti awan yang teduh. Meskipun bukan hangat lagi yang kurasakan. Meskipun bukan teduh lagi yang ia berikan. Tapi aku sangat merindukannya…
                Aku menyukai hujan. Aku senang menikmati rintik hujan yang jatuh membasahi tubuhku. Aku senang mencium bau tanah basah setelah hujan reda. Dan hujan, selalu mengingatkanku akan Egawa. Karena banyak yang telah kami lakukan saat hujan turun. Tapi bukan hujan seperti ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin hujan yang menyejukkan, bukan yang memberikan bencana. Sungguh, aku benci hujan kali ini. Tapi seseorang mengajarkanku untuk bersyukur dan mengambil hikmah dari segala sesuatu. Maka aku akan mencoba untuk tidak mengeluhkan hujan. Aku akan belajar membuat hujan menjadi sebuah berkah untukku. Aku tidak ingin tumbang karena terpaan angin yang begitu dahsyat. Maka detik itu pun aku berjanji akan berdiri sendiri, tanpa meminta bantuan siapapun.
                Sudah sekian lama aku mencoba menikmati hujan. Menari dibawah rintiknya. Menikmati harum tanah basah yang selalu menenangkan. Pada akhirnya aku bisa bersahabat kembali dengan hujan. Aku pun percaya, bahwa setelah hujan akan datang pelangi yang indah. Tapi bukan dalam waktu singkat bisa melihat pelangi itu. Bahkan sampai saat ini, aku belum menemukan pelangiku, yang katanya lebih indah dari matahari…
                Suatu hari, ia datang lagi. Ya, ia matahariku dulu, Egawa. Dengan segala kehangatan yang dulu sempat hilang dariku. Dengan segala penyesalannya yang ingin memintaku untuk kembali berteman lagi dengannya setelah sikap dingin yang selama ini kutunjukkan. Aku pun menerima itu. Menerima lagi kehadirannya walaupun pada awalnya hatiku menolak. Perlahan aku mulai membiasakan diri dengan matahari yang masih tetap hangat seperti dulu. Tanpa ingat lagi betapa sulitnya aku bangkit. Tanpa ingat seberapa besar usaha yang sudah aku lakukan untuk membangun “benteng” pertahanan di hatiku sendiri. Dan itu telah menyadarkanku bahwa tidak ada artinya waktu sekian lama yang kami lewati bersama. Aku bukan mataharinya seperti aku menganggapnya matahariku. Aku juga bukan pelanginya seperti aku menganggapnya pelangiku. Aku hanyalah angin lalu di kehidupannya.
                Lalu kini, semua yang dulu sempat hilang dariku, hadir kembali tanpa berubah sedikitpun. Ironisnya, aku hanya bisa merasakan, tidak bisa memiliki. Padahal aku juga tahu, mawar yang menghipnotisku dengan keindahannya, durinya juga akan semakin melukaiku jika aku tetap menggenggamnya.
                Aku menyakiti diriku sendiri. Merubuhkan bentengku sendiri. Mencairkan kebekuan hatiku sendiri. Cepat atau lambat, aku akan terbuang lagi. Terlupakan seperti yang dulu telah dilakukan Egawa padaku.  Dan sebelum itu terjadi, aku harus mulai mencari pijakan untuk mendarat, tanpa membiarkan diriku terlalu lama terbawa angin ke lapisan langit yang semakin jauh dari daratan.
                Mereka bilang akan selalu ada pelangi setelah hujan. Selalu ada mentari yang indah bersinar setelah terjangan badai. Tapi, pelangiku tak kunjung datang. Sedangkan ia yang memberikan hujan itu padaku, telah menemukan pelanginya sendiri. Membuatku semakin merasa tidak berarti dan terlupakan.
                Tuhan, apa akan ada pelangi untukku ketika hujan ini sudah mulai reda?

0 komentar:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir