Aku menulis
ini saat hujan. Saat angin sedang berhembus sejuk. Saat matahari enggan
menampakkan sinarnya.
Aku menulis
ini ketika hatiku sudah rentan akan rasa sakit. Ketika semua perkataan penuh
luka sudah membuatku kebal. Dan kini ketika hatiku sudah terlanjur beku, ia datang
kembali dengan segala kehangatannya yang dulu sempat hilang. Datang, dan
mungkin tidak lama lagi aku akan ditinggalkan membeku untuk kesekian kalinya.
Namanya
Egawa (atau sebut saja ia Egawa). Dia memiliki kehangatan yang jarang sekali
kutemukan di beberapa lelaki. Kehangatan yang selalu ia berikan kepadaku. Ia membuat
bunga yang dulu sempat gugur, bersemi kembali. Seperti matahari, sinarnya menghangatkan
sepanjang siang. Dan saat malam tiba, ia pergi digantikan bulan yang juga
menyinariku selama aku terjaga.
Semua berjalan
dengan sempurna. Sampai aku merasa bukan hangat lagi yang aku dapatkan dari
matahariku. Aku merasa tersengat oleh teriknya. Egawa, matahariku, berubah
menjadi awan kelam yang memberiku hujan tanpa henti. Bahkan mungkin bisa
disebut badai. Bukan teduh awan lagi yang aku dapatkan, melainkan petir yang
selalu menerjangku dan membuatku takut.
Matahariku
pergi. Egawa bukan seperti yang aku kenal dulu. Ia yang membuatku benci akan
adanya hujan yang dulu aku sukai. Ia pun membuatku merasa panas dengan adanya
matahari yang dulu selalu kunantikan kehadirannya.
Hari demi
hari aku jalani tanpanya. Rasanya…sepi. Aku rindu akan kehadirannya. Yang selalu
menghiburku. Selalu menenangkanku. Selalu melindungiku seperti awan yang teduh.
Meskipun bukan hangat lagi yang kurasakan. Meskipun bukan teduh lagi yang ia
berikan. Tapi aku sangat merindukannya…
Aku menyukai
hujan. Aku senang menikmati rintik hujan yang jatuh membasahi tubuhku. Aku senang
mencium bau tanah basah setelah hujan reda. Dan hujan, selalu mengingatkanku akan
Egawa. Karena banyak yang telah kami lakukan saat hujan turun. Tapi bukan hujan
seperti ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin hujan yang menyejukkan, bukan
yang memberikan bencana. Sungguh, aku benci hujan kali ini. Tapi seseorang
mengajarkanku untuk bersyukur dan mengambil hikmah dari segala sesuatu. Maka aku
akan mencoba untuk tidak mengeluhkan hujan. Aku akan belajar membuat hujan
menjadi sebuah berkah untukku. Aku tidak ingin tumbang karena terpaan angin
yang begitu dahsyat. Maka detik itu pun aku berjanji akan berdiri sendiri,
tanpa meminta bantuan siapapun.
Sudah sekian
lama aku mencoba menikmati hujan. Menari dibawah rintiknya. Menikmati harum
tanah basah yang selalu menenangkan. Pada akhirnya aku bisa bersahabat kembali
dengan hujan. Aku pun percaya, bahwa setelah hujan akan datang pelangi yang
indah. Tapi bukan dalam waktu singkat bisa melihat pelangi itu. Bahkan sampai
saat ini, aku belum menemukan pelangiku, yang katanya lebih indah dari matahari…
Suatu hari,
ia datang lagi. Ya, ia matahariku dulu, Egawa. Dengan segala kehangatan yang
dulu sempat hilang dariku. Dengan segala penyesalannya yang ingin memintaku untuk
kembali berteman lagi dengannya setelah sikap dingin yang selama ini
kutunjukkan. Aku pun menerima itu. Menerima lagi kehadirannya walaupun pada
awalnya hatiku menolak. Perlahan aku mulai membiasakan diri dengan matahari
yang masih tetap hangat seperti dulu. Tanpa ingat lagi betapa sulitnya aku
bangkit. Tanpa ingat seberapa besar usaha yang sudah aku lakukan untuk
membangun “benteng” pertahanan di hatiku sendiri. Dan itu telah menyadarkanku
bahwa tidak ada artinya waktu sekian lama yang kami lewati bersama. Aku bukan
mataharinya seperti aku menganggapnya matahariku. Aku juga bukan pelanginya
seperti aku menganggapnya pelangiku. Aku hanyalah angin lalu di kehidupannya.
Lalu
kini, semua yang dulu sempat hilang dariku, hadir kembali tanpa berubah
sedikitpun. Ironisnya, aku hanya bisa merasakan, tidak bisa memiliki. Padahal aku
juga tahu, mawar yang menghipnotisku dengan keindahannya, durinya juga akan
semakin melukaiku jika aku tetap menggenggamnya.
Aku menyakiti
diriku sendiri. Merubuhkan bentengku sendiri. Mencairkan kebekuan hatiku
sendiri. Cepat atau lambat, aku akan terbuang lagi. Terlupakan seperti yang
dulu telah dilakukan Egawa padaku. Dan sebelum
itu terjadi, aku harus mulai mencari pijakan untuk mendarat, tanpa membiarkan
diriku terlalu lama terbawa angin ke lapisan langit yang semakin jauh dari
daratan.
Mereka bilang
akan selalu ada pelangi setelah hujan. Selalu ada mentari yang indah bersinar
setelah terjangan badai. Tapi, pelangiku tak kunjung datang. Sedangkan ia yang memberikan
hujan itu padaku, telah menemukan pelanginya sendiri. Membuatku semakin merasa
tidak berarti dan terlupakan.
Tuhan,
apa akan ada pelangi untukku ketika hujan ini sudah mulai reda?
0 komentar:
Posting Komentar